
Dosen Bukan Sekadar Pengajar: Mendesak Kepatuhan terhadap Kode Etik Dosen
September 1, 2026
Milkiyyah ‘Ammah dan Tanggung Jawab Konstitusional Negara
September 23, 2026Berita tentang perundungan anak di media sosial datang silih berganti. Seorang anak dipermalukan, yang lain merekam. Seorang anak didorong, ditendang, atau dipaksa melakukan sesuatu yang merendahkan martabatnya, sementara di sekelilingnya terdengar tawa. Kamera tetap menyala. Video kemudian beredar. Orang-orang menonton. Sebagian tertawa, sebagian mengecam, sebagian lagi membagikannya. Dalam hitungan jam, penderitaan seorang anak dapat berubah menjadi konsumsi publik.
Di sinilah perundungan tidak lagi sekadar persoalan perilaku seorang anak kepada anak lainnya. Ia telah menjadi persoalan kebudayaan: kebudayaan tentang bagaimana kita memandang penderitaan orang lain. Perundungan tentu bukan fenomena baru. Sekolah sejak dahulu mengenal ejekan, pengucilan, pemalakan, bahkan kekerasan antarteman. Yang berubah adalah ekosistemnya. Media sosial membuat sebuah tindakan kekerasan memiliki penonton yang jauh lebih luas dan umur yang jauh lebih panjang. Apa yang dahulu mungkin berhenti ketika korban meninggalkan halaman sekolah, kini dapat terus hidup dalam rekaman digital.
Korban bukan hanya mengalami kekerasan pada saat kejadian. Ia mungkin harus menyaksikan kembali wajahnya yang dipermalukan, membaca komentar orang lain, dan mengetahui bahwa pengalaman buruknya telah menjadi tontonan banyak orang.
Lebih jauh, media sosial menghadirkan sesuatu yang sebelumnya tidak dimiliki oleh perundungan: insentif berupa perhatian. Tindakan yang memperoleh tawa, sorakan, komentar, likes, atau jumlah penonton berpotensi memberikan pengalaman psikologis bahwa tindakan tersebut “berhasil”. Seorang anak mungkin belum memahami mekanisme sosial yang rumit di baliknya, tetapi ia dapat menangkap pesan sederhana: ketika saya melakukan sesuatu yang ekstrem kepada orang lain, saya mendapatkan perhatian.
Persoalannya kemudian bukan hanya bagaimana menghentikan kekerasan, tetapi bagaimana mengubah ukuran tentang apa yang layak mendapatkan perhatian.Sebab anak-anak tidak tumbuh dalam ruang hampa. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka belajar dari keluarga, sekolah, teman sebaya, lingkungan, tontonan, permainan, dan tentu saja media sosial. Mereka mengamati bagaimana orang dewasa berbicara tentang orang lain, bagaimana konflik diselesaikan, bagaimana seseorang diperlakukan ketika berbeda, dan bagaimana penghinaan sering kali mendapatkan respons lebih besar daripada kebaikan.
Tentu kita tidak boleh menyederhanakan perundungan sebagai akibat tontonan atau media tertentu. Anak bukan mesin fotokopi yang sekadar meniru apa yang dilihatnya. Ada faktor keluarga, kepribadian, lingkungan pergaulan, budaya sekolah, pengalaman kekerasan, kebutuhan akan pengakuan, dan berbagai faktor lain yang saling berkelindan. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap lingkungan yang setiap hari ikut membentuk imajinasi anak.
Jika kekerasan terus dipertontonkan sebagai hiburan, jika penghinaan dianggap lucu, jika mempermalukan orang lain menjadi cara memperoleh popularitas, dan jika agresivitas mendapatkan panggung, kita tidak boleh terkejut ketika sebagian anak gagal memahami batas antara hiburan dan penderitaan.
Di sinilah pendidikan tentang empati menjadi sangat penting.
Kita terlalu sering mengatakan kepada anak, “Jangan membully.” Kalimat itu benar, tetapi tidak cukup. Anak perlu memahami mengapa ia tidak boleh menyakiti orang lain. Mereka perlu belajar bahwa teman yang sedang mereka ejek memiliki perasaan. Bahwa tubuh seseorang bukan bahan permainan. Bahwa rasa malu bukan tontonan. Bahwa menangis bukan sesuatu yang pantas ditertawakan. Bahwa sebuah candaan berhenti menjadi candaan ketika orang lain merasa terluka. mpati tidak lahir dari poster yang ditempel di dinding sekolah. Ia tumbuh dari pengalaman sehari-hari: ketika anak didengarkan, ketika perasaannya dihargai, ketika ia melihat orang dewasa meminta maaf, ketika konflik diselesaikan tanpa kekerasan, dan ketika menolong orang lain mendapatkan penghargaan sosial.
Karena itu, perundungan sesungguhnya adalah pekerjaan rumah bersama.
Orang tua tidak bisa menyerahkannya kepada sekolah. Sekolah tidak bisa melemparkannya kepada keluarga. Pemerintah tidak cukup hanya membuat regulasi. Dan industri media digital tidak dapat menganggap persoalan ini semata-mata sebagai urusan pengguna. Orang tua perlu hadir bukan hanya untuk mengetahui nilai rapor anak, tetapi juga mengetahui apa yang mereka tonton, dengan siapa mereka bergaul, apa yang mereka bicarakan, dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain.
Sekolah perlu membangun lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk melapor dan berbicara. Penanganan perundungan juga tidak cukup berhenti pada hukuman terhadap pelaku. Korban harus dipulihkan, sementara pelaku perlu dibantu memahami konsekuensi tindakannya dan membangun kembali kemampuan berempati.
Para pembuat konten juga mempunyai tanggung jawab yang tidak kecil. Dalam ekonomi perhatian, sesuatu yang mengejutkan memang lebih mudah memperoleh penonton. Tetapi tidak semua yang menghasilkan engagement layak diproduksi dan disebarkan. Ketika anak-anak menjadi bagian besar dari ekosistem pengguna media sosial, pilihan konten bukan lagi semata persoalan kreativitas; ia bersentuhan dengan tanggung jawab sosial. Begitu pula pemerintah. Perlindungan anak di ruang digital membutuhkan lebih dari sekadar larangan dan hukuman. Literasi digital, pendidikan karakter, mekanisme pelaporan, perlindungan korban, dan pengawasan terhadap konten yang membahayakan anak perlu berjalan sebagai sebuah ekosistem.
Kita perlu bertanya: mengapa seorang anak merasa memperoleh kepuasan ketika melihat orang lain kesakitan? Dari mana ia belajar bahwa mempermalukan orang lain dapat membuat dirinya terlihat kuat? Mengapa perhatian teman sebaya begitu mudah diperoleh melalui agresivitas? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak takut berbuat salah, melainkan membuat mereka mengerti mengapa suatu perbuatan itu salah.
Ajarkan kepada mereka bahwa tertawa bersama jauh lebih indah daripada menertawakan seseorang. Bahwa mendapatkan perhatian tidak harus dengan mempermalukan. Bahwa menjadi kuat tidak harus membuat orang lain takut. Bahwa kemenangan tidak harus meninggalkan korban. Dan yang paling penting, ajarkan kepada mereka bahwa ada banyak cara untuk memperoleh kebahagiaan dan kepuasan tanpa membuat orang lain terluka.Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh anak-anak yang pintar menghitung, cepat beradaptasi, dan mahir menggunakan teknologi. Bangsa juga dibangun oleh manusia yang ketika melihat orang lain jatuh, memilih mengulurkan tangan bukan mengeluarkan kamera.




